Ekspedisi Laskar Pelangi di Arktik


Renny Bijoux dari Seychelles, salah seorang tim ekspedisi Aurora Greenpeace, mengibarkan bendera Selamatkan Arktik saat tiba di Kutub Utara.
Para aktivis lingkungan Greenpeace terus berupaya menyelamatkan bumi, termasuk dengan cara melakukan ekspedisi ke daerah ekstrim tak berpenghuni di Arktik, Kutub Utara. 


Tim ekpedisi Greenpeace.
Ekspedisi tersebut dimulai pekan lalu, tepatnya Senin 8 April 2013 oleh sekelompok petualang yang tergabung Tim Aurora Greenpeace dengan misi utama menyelamatkan es Arktik, Kutub Utara.  Mereka terdiri adalah Ezra, Renny, Josefina Skerk dan Kiera.  Kegiatan ekspedisi dari Barneo camp, ber-ski menuju Kutub Utara.

Setelah berjalan kaki berhari-hari menempuh perjalanan menembus dinginnya Arktik serta medan yang 
Areal perkemahan Tim Aurora Greenpeace
luar biasa keras, Tim Aurora Greenpeace akhirnya berhasil mencapai pusat Kutub Utara dan menanamkan bendera untuk masa depan kapsul waktu berisi 2,7 juta nama yang mendukung petisi kampanye Save The Arctic ke dasar laut.

"Bulan Juni lalu, saat kami meluncurkan kampanye untuk menyelamatkan Arktik, kami berjanji. Kami berjanji bahwa jika satu juga orang bergabung dengan gerakan ini, kami akan membawa nama-nama mereka ke Kutub Utara dan menancapkan nama-nama mereka sejauh 4 kilometer di dasar laut sebagai pernyataan dari komitmen kita bersama untuk melindungi Arktik,"kata mereka  yang ditulis kembali Iris Andrews dalam blog Greenpeace.

Ekspedisi mereka direkam Dirty Robber, nominator Oscar yang juga mendidikasikan hidupnya untuk penyelamatan es di Arktik. Dari laporan ekspedisi para laskar pelangi, pembela bumi diketahui  pemandangan es yang tinggi di Kutub Utara makin rapuh, telah menyusut dengan sangat cepat.

Para ilmuwan mencatat selama 30 tahun terakhir, tiga perempat pucuk es yang mengapung di puncak dunia (Arktik) telah  hilang . Volume dari laut es diukur lewat satelit pada musim panas ini, saat mencapai ukuran terkecil, telah menyusut dengan sangat cepat hingga menurut para ilmuwan telah mencapai ‘spiral kematian’
Membuat lubang u/nanam kapsul.

Selama lebih dari 800.000 tahun es telah menjadi ciri utama lautan Arktik. Es mencair karena penggunaan energi fosil yang kotor, dan dalam waktu dekat untuk pertama kali sepanjang sejarah manusia di muka Bumi tak akan ada es sama sekali di kawasan Arktik.

Menurut Greenpeace, kondisi tersebut bukan hanya ancaman bagi beruang kutub, ikan paus, paus Narwhal , anjing laut dan spesies lainnya yang hidup di Arktik, tapi bagi manusia yang di bumi.  Es di puncak dunia memantulkan panas matahari kembali ke angkasa dan menjaga seluruh planet tetap dingin, menstabilkan sistem cuaca yang menjadi ketergantungan kita untuk menghasilkan sumber-sumber makanan. Melindungi es berarti melindungi keseimbangan kehidupan semua mahluk penghuni bumi termasuk manusia. 

"Ketergantungan kita pada bahan bakar fosil kotor adalah sebuah kesalahan, terkait dengan kemajuan dan kemakmuran, tetapi membawa kehancuran keduanya yaitu lingkungan dan ekonomi. Ada cara lain yang memungkinkan. Sangat memungkinkan, dan pemimpin politik kita bisa melakukannya sekarang,"kata Kumi dalam keterangan tertulisnya yang diterima Beritalingkungan.com.

Menurut Hindun Mulaika, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia memcairnya es di Arktik akan menenggelamkan negara-negara kepulauan seperti Indonesia akibat naiknya permukaan air laut.

Josefina berharap Dewan Arktik mau mendengarkan gerakan global yang terus tumbuh untuk membuat tempat perlindungan global pada Arktik. (Marwan Azis) 


Share on Google Plus

About Post Editors

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar