Qatar Sisi Lain: Bukan Lagi Arab Culture

Kota Doha, Qatar. Foto : unitedrant.co.uk.
Konferensi perubahan iklim PBB kali rada uni. Qatar, yang emiter karbon dioksida perkapita tertinggi di dunia malah terpilih jadi tuan rumah. Negara ini  mirip benar dengan Amerika: budaya mobil adalah segalanya. Tapi tentu saja ada sisi yang lain. Apa itu?

Sesekali coba tengok data emiter karbon dioksida per kapita dalam periode 1990-2009. Dan kita akan menjumpai Qatar, negara kecil di Jazirah Arab ini selalu menjadi juara bertahan. Artinya selama 19 tahun itu, menurut data Departemen Energi Amerika Serikat, orang Qatar menjadi penyumbang tertinggi gas rumah kaca dibandingkan manusia di negara lain di bumi yang makin panas ini.

Sumber emisi yang dihitung cuma dua yaitu bahan bakar fosil dan emisi pabrik semen. Uniknya, Qatar malah terpilih sebagai tuan rumah COP18, dan membuat banyak orang bertanya-tanya sama seperti ketika mereka terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia sepakbola pada 2022 mendatang.
Kemacetan di Doha. Foto : tentangqatar.com

Di Qatar, atau setidaknya di Doha, semua orang naik mobil, hampir semuanya mobil pribadi. Kalau ada jenis lain yang lalu lalang, pasti cuma tiga: mobil jemputan hotel yang amat jarang dan suka bikin kesal karena lama menjemput, lalu taksi yang meternya tak terlalu mahal, dan truk-truk besar yang melayani pembangunan yang masif di hampir semua sudut kota.

Budaya unta telah berganti menjadi budaya mobil. Jalan-jalannya lebar, dan supirnya ngebut semua. Sampai jam 8 pagi jalanan masih asyik karena kosong, dan jam 10 pagi kantor baru menggeliat, kecuali hari Minggu seperti hari ini, jalanan penuh sesak. Pohon jarang di Doha, tetapi lapangan rumput makin banyak.

Silakan hitung biaya pemeliharaan dan sumber air bersihnya. Struktur kota ini, mirip kota-kota di Amerika, dibagi dalam blok. Bedanya, penghubung antar-blok di Qatar adalah bundaran, bukan perempatan-square. Setir mobilpun di kiri, sama dengan Amerika.  Sayangnya, budaya naik mobil dan memilih menghabiskan minyak bumi juga mereka serap dari Amerika. Angkutan umum? Jangan tanya. Tidak ada bis kota, MRT, atau busway macam di jakarta. Tak heran, emisinya sangat tinggi.

Tapi Qatar bersungguh-sungguh ingin berubah sejak mereka terpilih sebagai tuan rumah yang ramah lingkungan di COP18 ini. Contohnya, mereka membangun panel surya di atas atap QNCC tempat acara konferensi. Panel-panel ini luasnya 3.500 meter persegi, dan mampu menghasilkan listrik 1.225 MWh, atau memenuhi 12,5 % dari kompleks gedung itu. Listrik sebanyak itu mampu mengurangi emisi karbon sebesar 1.140 ton per tahun. Artinya, proyek hijau ini bisa diusulkan sebagai offset karbon.

Kata General Manajer QNCC Adam Mather Brown  kepada para jurnalis, nilai offset ini setara dengan kebutuhan listrik selama empat hari konferensi yaitu 40,8 MWh. Jadi, kebutuhan listrik untuk  12 hari konferensi iklim di Doha ini terhitung luar biasa, sekitar 122 MWh. Dengan semua usaha itu, QNCC berhasil mendapatkan sertifikat kategori Emas dari Green Building Council Amerika Serikat.

Inilah peringkat pertama tertinggi yang diberikan kepada  bangunan sejenis di seluruh dunia. Saya yang cuma pelintas, tak sempat tahu lebih banyak, tak juga sempat naik ke atap gedung.

Qatar rupanya punya rencana yang lebih besar dibandingkan mengisi atap gedungnya dengan panel surya. Mereka akan membangu pabrik polisilikon untuk memasok panel-panel surya. Pabrik itu akan dibantung di Las Laffan tahun depan. BIla berjalan, mereka mampu menghasilkan polisilikon 8 ribu metriks ton per tahun.

Targetnya, selain pasar Timur Tengah, mereka akan memasok seluruh energi penyejuk udara pada semua stadion World Cup tahun 2022 dengan energi surya. Jadi, masih mau cari bis atau kereta di Doha? Tunggu 2 tahun lagi, kata Ihyar Idris, tukang parkir di QNCCC yang berbaik hari menyarankan saya tak usah menunggu bis penjemput yang datang tak tentu waktu dan memakai taksi,  satu-satunya opsi lain yang ada.

Saat itu, kereta cepat dan massal akan menghiasi jalan-jalan di Doha, menyambut World Cup 2022. Atau tetap ingin mencari pengalaman baru naik unta? Yang satu ini masih gampang, tergantung dalamnya kocek tentu saja. Pilihan lainnya, banyak jasa wisata yang menawarkan bermalam di gurun ala suka pengembara, atau menjelajah padang pasir. Lagi-lagi, semuanya pakai mobil atau speed boat, dengan bahan bakar fosilnya yang  mencemaskan. Selamat datang di Qatar. (Igg Maha Adi).
Share on Google Plus

About Post Editors

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar