Rawa Aopa Watumohai Nasibmu Kini

“Jika Pohon terakhir telah ditebang,
Ikan terakhir telah ditangkap
Sungai terakhir telah mongering,
Manusia baru sadar
kalau uang tak dapat dimakan,”

Untaian bahasa bijak orang indian yang dipopulerkan oleh Greenpeace itu. Sangat cocok mengambarkan keresahan warga yang berdomisili di sekitar Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai yang kini lingkungannya diambang “Kehancuran”.

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW)  yang memiliki luas sekitar 105,194 Ha hampir seluas pulau Muna yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat dan berbagai satwa, namun kini berada dalam ancaman kerusakan yang cukup serius, akibat tingginya aktivitas perambahan dan tindak illegal logging ke areal yang kaya keaneragaman hayati itu.

TNRAW termasuk salah satu kawasan taman nasional yang pertama dikukuhkan di Indonesia, yakni tahun 1990 atau tahun yang sama dengan pengukuhan Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menjadi payung hukum pengelolaan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya di Indonesia.

Areal konservasi yang menjadi kebangaan masyarakat Sulawesi Tenggara itu merupakan hasil penggabungan 2 Suaka Margasatwa, yaiutu Rawa Aopa dan Suaka Margasatwa Gunung Watumohai dengan Taman Buru Daratan Rumbia. 

Areal TNRAW dapat dicapai dengan menempuh jarak rute kurang lebih 119 km dengan lama perjalanan sekitar 2 hingga 3 jam perjalanan dari Kota Kendari dengan menggunakan roda empat atau roda dua.

Kekayaan Hayati Ekosistem TNRAW

Keadaan tipe ekosistem Rawa Aopa Watumohai yang terdiri atas 4 tipe yakni ekosistem rawa, ekosistem savana dan ekosistem hutan mangrove (bakau). Pada setiap tipe ekostem tersebut memiliki potensi keanekaragaman hayati (biodiversity) yang tinggi baik berupa flora (tumbuhan) maupun fauna (satwa).

Berdasarkan data hasil survey inventarisasi yang sudah dilakukan hingga tahun 2002, setidaknya di kawasan TNRAW tercatat sebanyak 501 jenis tumbuhan dari 110 famili. Diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi seperti Damar (Agathis homii) dan Kasumeeto (Dyospyros malabarica).

Sedangkan satwa liarnya, telah tercatat kurang lebih 23 jenis mamalia (antara lain :Codot Roset Sulawesi, Kuskus Beruang, Monyet Digo, Musang Sulawesi, Babi Hutan Sulawesi, Anoa, Rusa/Jonga, serta memiliki kurang lebih 7 jenis reftil antara lain : Biawak, Bulus, Buaya Muara, Ular Sawah, Soa-Soa dan Tokek). Selain itu TNRAW juga memiliki kurang lebih 8 jenis Pisces antara lain :Tambakang, Gabus, Lele, 207 jenis aves seperti Maleo, Mandar Dengkur, Kakatua Kecil Jambu Kuning dan 4 jenis amphibi dan jenis-je nis insecta.

Dari sekian banyak jenis satwa yang mendiami areal Taman Nasional Rawa Watumohai, setidaknya terdapat 2 jenis satwa khas endemik Sulawesi yaitu Anoa (Bubalus sp) dan Maleo (Macrocephalon maleo). Selain itu masih banyak jenis satwa lain yang merupakan satwa endemik Sulawesi yang terdapat di areal TNRAW. Inilah yang melatar belakangin sehingga Rawa Aopa Watumohai ditetapkan sebagai Taman Nasional.


Areal TNRAW Sebagai Mata Pencaharian Bagi  Warga

Keseharian warga yang berdomisili disekitar kawasan TNRAW  banyak berhubungan dengan kawasan TNRAW, utamanya masyarakat disekitar Rawa Aopa dan hutan bakau.

Bagi masyarakat sekitar rawa memanfaatkan hasil hutan ikan rawa sebagai sumber protein keluarga akan menyumbang penghematan terhadap anggaran rumah tangga sebesar 40%. Begitu juga, bagi penduduk sekitar hutan bakau dan laut mengambil sumber protein keluarga dari kawasan hutan bakau dan laur sekitarnya mampu menyumbang penghematan atas biaya hidup sehari-hari.

Sudah menjadi kebiasan bagi masyarakat sekitar hutan untuk memanfaatkan hasil hutan non kayu sebagai sumber penghasilan keluarga dari waktu ke waktu. Kegiatan masyarakat memungut hasil hutan non kayu seperti rotan sudah menjadi kebiasaan turun temurun penduduk yang hidup dekat dengan hutan.

Bagi masyarakat etnik Tolaki, etnik asli di daratan Sulawesi Tenggara, memungut dan mengumpulkan rotan berbagai jenis dari dalam kawasan hutan TNRAW. Biasanya kegiatan mengumpulkan rotan dilakukan masyarakat Tolaki saat tanaman pangan dari kebun mereka belum panen atau menghasilkan.

Ekosistem TNRAW Diambang Kehancuran

Sejak otonomi daerah di gulirkan, masalah yang sering muncul dalam pengelolaan TNRAW menurut catatan CARE Intenasional, salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional yang pernah melakukan proses pendampingan masyarakat di TNRAW menyebutkan ada berbagai masalah yang kini melanda taman nasional rawa aopa watumohai.

Antara lain pengelolaan yang sentralistik, pengabaian keberadaan masyarakat lokal (adat), pengelolaan kawasan konservasi menjadi bagian yang tidak penting bagi pemerintah daerah karena pemda menganggap kawasan konservasi merupakan wewenang pemerintah pusat dan masalah yang paling pelik yang mengancam kelestarian TNRAW adalah kegiatan penebangan hutan tak terkendali.    

Dari sekian masalah tersebut, penebangan hutan tak terkendali menjadi penyumbang terbesar atas kerusakan taman nasional, bahkan informasi terbaru (25/9) yang diperoleh dari Mustari, staf Balai Pengelola Taman Nasional Rawa Watumohai mengungkapkan aktivitas illegal loging kini sudah memasuki kawasan inti taman nasional.

Penebangan hutan itu pada dasarnya dilakukan oleh warga dalam bentuk mengkonversi hutan menjadi kebun dan umumnya kebun yang dibangun masyarakat adalah kebun kakao atau lebih dikenal dengan kebun coklat oleh masyarakat Sulawesi Tenggara.

Gelombang besar-besaran perpindahan penduduk dari Provinsi Sulawesi Selatan ke Sulawesi Tenggara pada tahun 1998, kian menambah jumlah kerusakan areal taman nasional, karena banyak terjadi pengalihan fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya.

Berdasarkan hasil analisa citra satelit tahun 1996 dan 2001 menunjukkan tingkat percepatan perubahan pengunaan lahan di Sulawesi Tenggara dari tutupan hutan menjadi tutupan kebun. Saat ini kawasan hutan sudah terbagi akibat terpotongnya wilayah sempit di tengah kawasan menjadi perkebunan kakao dan tanaman musiman  yang dilakukan oleh masyarakat.

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai kini juga diperhadapkan tingginya aktivitas illegal loging, perburuan liar (illegal poaching), penambangan liar dan pembakaran hutan kian makin memperbesar laju kerusakan.

Sulawesi Selatan yang selama ini dikenal sebagai penghasil komoditas kakao dari wilayah Indonesia Timur pada dasarnya berasal dari Sulawesi Tenggara dan kebun kakao di Sulawesi Tenggara pada umumnya ada yang berkembang di sekitar dan di dalam batas-batas kawasan hutan baik hutan produksi, hutan lindung maupun hutan konservasi.

Selain itu, ada berbagai macam bentuk tekanan utama yang mempengaruhi laju kerusakan di TNRAW antara lain lemahnya upaya penegakan hukum (law enforcement), rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, belum adanya koordinasi yang terjalin secara sistematis antara pengelola taman nasional dengan pemerintah daerah, menjadi kendala pada upaya penanganan laju kerusakan.

Total kerusakan kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai akibat kegiatan perambahan sudah mencapai 9000 ha. Kerusakan ini terjadi ditujuh blok yang terletak di empat wilayah kabupaten yang masuk dalam areal TNRAW yaitu Kabupaten Bombana, Konawe Selatan, Konawe dan Kolaka.

Kabupaten Kolaka, yang tahun ini meraih adipura dikategorikan sebagai daerah yang paling luas terjadi areal perambahan, data yang berhasil dihimpun, sedikitnya da 12824 hektar lokasi TNRAW di Kabupaten Kolaka yang telah diperjual belikan oleh oknum masyarakat yang ingin memperkaya diri sendiri.

Adapun wilayah Kabupaten Kolaka yang kini mengalami ancaman cukup serius yaitu Kecamatan Tangketada, Watubangga, Triwuta, Ladongi dan Kecamatan Lambadia. Hal serupa juga dialami tiga kabupaten lainnya yang masuk dalam areal TNRAW.

Untuk Kabupaten Bombana seluas 45605 Ha tepatnya Kecamatan Rarowatu, sedangkan di Kabupaten Konawe Selatan seluas 40527 Ha meliputi Kecamatan  Tinanggea dan Angata. Sementara Kabupaten Konawe sedikitnya ada 6238 Ha areal taman nasional yang telah dirambah masyarakat terutama untuk kecamatan Puriala dan Kecamatan  Lambuya.

Aktivitas perambahan tersebut diduga banyak didalangi oleh masyarakat setempat yang juga melibatkan pihak luar sebagai pihak pembeli, bahkan diduga dibacking oleh oknum pejabat pemda. Hal ini diperkuat dengan dibiarkannya aktivitas perambahan yang dari hari-kehari makin menjadi-jadi dan masih berlangsung hingga saat ini.

Dampak Kerusakan Lingkungan

Salah satu pesona TNRAW adalah dijumpainya rusa atau jonga yang mendiami hamparan padang alang-alang yang diselingi pohon-pohonan yang arealnya mencapai ribuan hektar (savana). Namun saat ini, satwa liar tersebut sudah jarang terlihat lagi baik diwaktu sore maupun dimalam hari. Populasi satwa rusa di TNRAW belakangan ini semakin langka.

Penyebab kelangkaan ini adalah karena tindakan perburuan liar yang tidak terkendali dengan menggunakan senjata api di awal tahun 1998 serta maraknya aktivitas perambahan kedalam areal konservasi sehingga satwa-satwa liar tersebut semakin terusik dari habitatnya. Populasi rusa saat ini diperkirakan hanya tinggal sekitar 5000 ekor saja.

Dampak negatif lainnya yang dirasakan masyarakat saat ini adalah masalah air yang dari hari ke hari debitnya semakin mengecil karena menarah air (hutan red) yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat telah rubuh dibeberapa areal pengunungan.

“Dulu air melimpah dan bisa mengairi puluhan desa, bahkan empat kabupaten, tapi karena aktivitas perambahan yang terus berlangsung, kini kami mulai merasakan yang namanya krisis air,”kata H Anas salah satu warga yang tinggal di sekitar taman nasional Rawa  Aopa.

Ia juga menceritakan, dulu masyarakat mendapatkan air melimpah dari Gunung Mandoke yang memiliki air terjun dan sungai. Namun kini debit air makin mengecil karena pada bagian hulu hutannya sudah banyak yang gundul akibat dari tingginya aktivitas perambahan.

Kalau hal tersebut tidak segera diatasi, maka diproyeksikan akan menimbulkan tragedi kemanusian seperti kemiskinan dan kelaparan karena hutan tak mampu lagi menjadi penyangga kehidupan khususnya dalam hal ketersedian air. “Kalau kegiatan perambahan terus dibiarkan maka mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi, bencana kekeringan dan kelaparan akan melanda masyarakat  yang ada di sekitar taman nasional,” kata Pria paru baya itu, yang selama ini mendidikasikan pikiran dan tenaganya dalam pelestarian TNRAW.

Kerusakan TNRAW selain dipicu oleh aktivitas perambahan, illegal loging dan perburuhan liar. Juga didukung oleh lemahnya penegakan hukum lingkungan terhadap para perambah dan penjahat lingkungan lainnya serta kurangnya kepedulian pemerintah kabupaten yang sebagian wilayahnya masuk dalam areal konservasi.
“Kami sudah sering melaporkan oknum yang melakukan perambahan di taman nasional, tapi para perambah tersebut tak ada yang ditangkap sehingga mereka kembali menjalankan aktivitasnya semakin taman nasional makin hancur,”kata Anas.

Hal senada juga diungkapkan Slamet warga Lambuya, Slamet, beberapa tahun sebagian masyarakat secara swadaya sudah berupaya mengamankan taman nasional, tapi pihak pemerintah Kolaka seakan menutup mata. Padahal taman nasional sudah banyak yang dirambah baik oleh masyarakat lokal maupun masyarakat luar.  
  
Diungkapkan, air terjun Gunung Pinanggosi sudah kering akibat aktivitas perambahan yang menyebabkan hutan di daerah hulu menjadi gundul.”Kami mengharapkan Bupati Kolaka mau turun meninjau biar bisa melihat langsung apa yang terjadi di taman nasional ujarnya.
Baik H Anas maupun Slamet mengharapkan penegak hukum baik kepolisian maupun pengadilan  agar bisa menindak seberat-beratnya para pelaku perusakan lingkungan di   Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. “Jangan menunggu pohon terakhir”(Marwan Azis)
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. saya bukan warga sultra, tapi smentara ini berdomisili di sultra, sultra sebenarnya cantik dan berpotensi wisata alam yang luar biasa, tapi sayangnya pemerintah provinsi dan daerah masih terlena dan tergiur dengat nikmatnya tambang nikel, sehingga alamnya semakin rusak didepan mata kita. ayo warga sultra bersatu!! jangan mau tanahmu rusak karena pertambangan tak berwawasan lingkungan

    BalasHapus