Sawit di Bibir Leuser



Ekspansi perkebunan kelapa sawit kian marak di medan dan kini telah berada di bibir hutan gunung Leuser.

Kepala Pengelola Taman Nasional Gunung Leuser, Ir Wiratno mengungkapkan, kerusakan TNGL saat ini telah mencapai 40-50 ribu hektar akibat eksploitasi kayu dan penguasaan kawasan hutan menjadi lahan pertanian. “Sekitar 1000 hektar kawasan TNGL telah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit,” kata Wiratno.

Selain itu lanjut, banyak anggota dewan dan pejabat yang membeli lahan kawasan TNGL. Mungkin mereka tidak tahu, asal membeli dari warga. Bisnis lahan kawasan inilah yang lagi tren di TNGL. Penggundulan hutan dilakukan kemudian pengusaha atau pejabat masuk membeli lahan dari warga untuk ditanami kelapa sawit.

Ia juga mengungkapkan, illegal logging yang yang terjadi selama 15 tahunan melibatkan aparat dari oknum TNI dan pejabat serta pengusaha.“Saat ini ada 11 perambah hutan yang telah diperadilkan termasuk otak atau pengusaha ternama di wilayah Sumatera Utara,” kata Wiratno, sayang tak menyebut nama siapa pengusaha yang dimaksud.

Untuk oknum aparat TNGL tidak memprosesnya secara hukum melainkan melalui pendekatan dan menggandengnya untuk memperbaiki kawasan hutan. Tapi, jika macam-macam pihak TNGL akan melanjutkan perkaranya.

Kerusakan TNGL juga terjadi akibat pengungsi Aceh. Untuk mengatasi masalah pengungsi pihak TNGL telah berupaya menyelesaikannya dengan cara menjalin kerjasama dengan pihak lain untuk mengembalikan pengungsi ke kampungnya masing-masing.

Sedangkan untuk pembukaan lahan sawit secara illegal yang masuk dalam kawasan taman nasional pihaknya (TNGL) akan bertindak tegas. “Kawasan yang menjadi lahan kelapa sawit akan kami musnahkan. Kami juga telah mendekati warga,”tegas Winarno.

Diakui Wiratno, tidak gampang untuk mendekati warga dan menyadarkan mereka, namun setelah melalui upaya panjang, akhirnya warga sadar diri dan justru membantu pihak TNGL menjaga kelestarian hutan. Baik melalui patroli bersama baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan gajah dan sekaligus melindungi gajah melalui Conversation Respons Unit (CRU) dibawah FFI.

Pelestarian hutan dan ekosistem di dalam TNGL juga melibatkan berbagai pihak dengan membangun konsep kolaborasi membangun hutan berbasis ekowisata. “Jadi, selain lingkungan terjaga peningkatan ekonomi disekitar kawasan juga terjadi,” kata Ary Suhadi.

Berdasarkan informasi dari pihak Indonesia Ecotorism (Indocom), sistem tersebut juga telah diterapkan dibeberapa taman nasional di Indonesia dan hasilnya kini telah dapat dinikmati masyarakat yang berdomisili di sekitar taman nasional sehingga masyarakat mulai sadar dan menjaga kelestarian taman nasional. (Marwan Azis)
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar