Senja Indah Pulau Buton

Buton tak hanya menyungguhkan pemandangan pantai yang indah nan bersih, namun daerah yang dikenal sebagai penghasil aspal terbesar di Asia ini juga memiliki peninggalan sejarah dan pesona hutan Lambusango yang tak kalah menarik untuk dikunjungi.

Mentari belum menampahkan sinarnya, tak seperti hari-hari biasanya, pagi sekali sekitar jam 6.00 WITA saya bersama sejumlah kawan-kawan jurnalis dari berbagai media telah berkumpul di pelabuhan Kendari Beach. Kami akan melakukan perjalanan jurnalistrip menuju Pulau Buton tepatnya kota Bau-Bau dan hutan Lambusango.

Pagi itu, puluhan pedagang kaki lima didominasi kaum ibu sibuk menawarkan barang dagangnya pada sejumlah orang yang akan melakukan perjalanan ke Pulau Muna dan Pulau Buton. Mereka berjualan berbagai keperluan perjalanan mulai dari air mineral, makanan, telur yang sudah dimasak, gogos hingga berbagai makanan ringan menandai dimulainya perputaran roda ekonomi warga Kendari dipagi hari.

Tak lama kemudian, suara sirene Sagori Ekspres berbunyi, pertanda bahwa kapal akan segera berangkat. Setelah seluruh penumpang naik dikapal, tepat pukul 07.30 WITA, akhirnya Sagori Ekspres meninggalkan pelabuhan Kendari Beach. Sagori Ekspres adalah salah satu kapal cepat yang menghubungkan antar pulau di Sulawesi Tenggara yang selamat ini dimanfaatkan warga yang melakukan perjalanan antar pulau.

Sepanjang jalan kita disungguhi paroma laut dan gugusan pulau yang mempesona yang berada tepat di garis Wallacea. Ribuan ikan yang memiliki sayap (ikan terbang) terlihat beterbangan diantara gulungan ombak. Sementara rombongan burung camar dari kejauhan terlihat beterbangan kian menambah keindahan laut Sulawesi bagian Tenggara.

Tak heran kalau sebagian besar penumpang meski memiliki kursi lantai 1 namun lebih memilih naik ke dek 2 supaya bisa menikmati pemandangan gugusan pulau dan panorama Tanjung Peropa yang tampak menghijau disesaki pohon-pohanan. Namun sebagian lagi sudah yang gundul yang diakibatkan perambahan dan konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Tanjung Peropa merupakan salah satu kawasan swaka marga satwa di Sulawesi Tenggara.

”Saya dan Koko aktifis WWF Indonesia tak mau melewatkan setiap momen pemandangan indah termasuk areal hutan yang gundul, kami pun mengabadikannya lewat kamera digital yang kami bawa,”

Sementara Kiki (kontributor Radio 68 H Jakarta) dan Meks (reporter Kendari Tv) bersama 2 orang anak-anak yang juga berada di dek 2 tampak menikmati perjalanan itu sambil mengunyang buah langsat yang dibeli di pelabuhan Kendari Beach, sebelum kapal berangkat.

Selang beberapa saat Indarwati (jurnalis majalah pantau yang saat ini aktif di WWF) ikut bergabung bersama kami. Sepanjang jalan kami menghabiskan waktu memotret pemandangan sesekali juga mengambil gambar teman-teman lain yang tengah asik mengobrol santai dan sesekali bertingka narsis.”Wan kamu ambil dulu dong gambarku disini nah,”pinta Kiki pada saya.

Dek kapal bagian atas selain disesaki penumpang juga dipenuhi oleh puluhan karung langsat berwarna putih yang akan dibawa menuju kota penghasil jati itu (Pulau Muna red) oleh salah seorang pedagang buah musiman itu. Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam perjalanan dengan harga tiket Rp 100 ribu perorang, akhirnya kapal yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Bau-Bau.

Saat pertama kali memasuki Pelabuhan Murhum Kota Bau-Bau, kita bakal langsung disergap oleh kepadatan tukang ojeng yang berjejal merayapi jalanan yang basah karena hujan. Sementara para pedagang kaki lima sibuk menjajakan daganganya pada penumpang kapal yang baru saja sandar di pelabuhan Kota Bau-Bau. Mereka menjual berbagai makanan mulai dari makanan berat hingga snack tak ketinggalan gula kelapa, makanan ringan khas Pulau Buton.

Belasan anak-anak suku Bajo tak mau ketinggalan menyambut penumpang dengan cara mereka sendiri, yakni mempertontonkan kebolehannya berenang di laut hanya dengan sedikit pancingan uang seribu rupiah bahkan uang logan bernilai seratus atau lima ratus pun yang sengaja dibuang ke laut oleh sejumlah penumpang, mereka berebutan sambil mempertontonkan kelincahannya berenang dengan berbagai gaya. Aksi anak-anak suku Bajo itu mendapatkan perhatian banyak penumpang kapal yang baru sandar di Pelabuhan Murhum. Pelabuhan Murhum merupakan tempat simpul pelayaran Nusantara dan tempat singgah kapal dari Indonesia bagian timur dan barat.

Udara kota yang sejuk, plus suasana kota yang agak padat membuat kota yang bergelar ”Kota Semerbak” ini, menjadikannya sebagai tempat transit yang menawan. Pulau yang terkenal sebagai penghasil aspal ini memang dikenal sebagai salah satu pulau tujuan wisata yang menyuguhkan panorama laut dan hutan serta wisata budaya berupa benteng dan kompleks keraton kesultanan Buton yang berada di atas bukit yang kini masih tetap utuh dan berdiri megah dilengkapi dengan merian kuno yang menghadap kelaut.

Menjadi Bagian Kerajaan Belanda

Dalam perjalanan jurnalis trip ini, sebelum kami melanjutkan perjalanan hutan Lambusango dan usai bersilaturhami dengan pihak Operation Wallacea Trust, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional yang bergerak dalam pelestarian hutan Lambusango. Sore harinya kami menyempatkan diri berkunjung ke Benteng Keraton Buton guna melihat jejak peninggalan Kesultanan Buton. Menurut cerita penduduk setempat, kerajaan Buton didirikan oleh pendatang dari Johor sekitar awal abad 15.

Raja-raja Buton pernah menjalin hubungan dengan Kerajaan Hindu Majapahit di Jawa. Interaksi tersebut memungkinkan raja-raja pendahulu Buton menganut agama Hindu. Namun setelah memasuki dinasti kerajaan keenam, masuklah agama Islam pada tahun 1540 sehingga muncullah kesultanan pertama di Buton. Di bawah kepemimpinannya, seluruh anggota kerajaan secara resmi masuk Islam.

Berdasarkan dokumen Barat, letak Pulau Buton cukup strategis, karena merupakan rute transit dari Jawa dan Makassar menuju Maluku yang pernah berjaya sebagai penghasil rempah-rempah Indonesia.

Dalam paruh pertama abad ke-17, Kesultanan Buton sulit mempertahankan kemerdekaannya dalam perebutan kekuasaan antara kesultanan Makassar dan Ternate. Namun belakangan kesultanan Makassar ditaklukan oleh VOC pada tahun 1667-1669, kesultanan Buton terbebas dari perebutan kekusaaan Makassar-Ternate, tapi kesultanan Buton menjadi bagian dari wilayah Belanda. Selamat abad ke-17,18 dan 19, Kesultanan Buton berupaya menjadi kerajaan yang merdeka dari bayang-bayang kerajaan Belanda.

Buton bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pada tahun 1949, saat itu sistem sosio-politik Kesultanan Buton dipadukan dengan sistem sosio-politik negara Republik Indonesia. Penyatuan itu mencapai puncaknya pada 1960 dengan pembubaran kesultanan.

Hingga kini, masih dapat dilihat peninggalan kerajaan kesultanan Buton, berupa benteng dan keraton di Kota Bau-Bau yang sebelumnya pernah menjadi ibu kota Kabupaten Buton.

Kompleks keraton yang bernama Wolia itu dikeliling oleh benteng sepanjang 2,74 meter, tebal 1-2 meter dan tinggi 2-8 meter. Benteng ini terbuat dari pasir dan batu yang konon bahan perekatnya terbuat dari putih telur. Yang dibangun dalam kurun waktu lima puluh tahun melampaui tiga masa kesultanan yang berbeda.

Benteng ini terbentang melingkar huruf”Dal”dalam huruf Arab dengan panjang 2,74 , didirikan Abad ke 16 bertujuan sebagai benteng pertahanan masyarakat dan kerajaan Buton dari serangan musuh. Di benteng itu kami sempat berfoto bareng, sambil menikmati pemandangan Kota Bau-Bau dari atas bangunan benteng Buton yang menghadap ke laut.

Saat teman-teman lain tengah asyik berjalan-jalan di dalam kompleks keraton. Saya dan Michwan (reporter Kendari TV) menyempatkan diri shalat Azhar di Mesjid Tua bernama Mesjid Agung Keraton, yang terletak tepat berada dalam kompleks keraton. Bangunan Mesjid itu hampir semuanya terbuat dari kayu kecuali lantai dasar dan tangga bagian depan sementara lantai dua semuanya menggunakan balok dan papan yang terbuat dari kayu. Mesjid yang kuba-nya dicat warna hijau itu selain dijadikan sebagai tempat ibadah juga dijadikan sebagai tempat pelantikan bangsawan Buton.

Mesjid itu dibangun pada Abad ke 17, masa Kesultanan Salahudin Durul Alam. Tak jauh dari bangunan Mesjid Agung Keraton, masih berdiri tiang bendera kuno yang didirikan pada tahun 1712 setinggi 21 meter, di depan serta rumah adat yang di depannya terdapat tugu jangkar kapal.

Sejak masa Orde Baru hingga saat ini, kompleks keraton Buton sering dijadikan sebagai tempat pelaksanaan festival keraton setiap tanggal 12-13 September. Pada acara tersebut ditampilkan atraksi budaya seperti upacara perkawinan adat Wolio (Buton), upacara pingitan serta perebutan uang logam yang dibuang ke laut serta pameran yang menampilkan aneka ragam makanan tradisional.

Menjelang magrib, kami mulai bergeser ke pantai Kamali Kota Bau-Bau. disana kami habiskan waktu bersantai sekedar menghilangkan lelah sambil menikmati sarabba yang terdiri dari beragam jenis seperti sarabba biasa, sarabba telur, sarabba susu dan sarabba spesial. Minuman khas Sulawesi yang terbuat dari jahe campur gula dan santan kelapa serta ditemani pisang goreng, bakwan dan ubi goreng sambil menikmati angin laut dan deburan ombak tak lelah berkejaran menyapa pantai.”Asyik juga yah disini,”coleteh Yuni, jurnalis Kendari Ekspres.

Pantai Kamali menjadi salah satu tempat nongkrong bagi kaum lamuda, anak nelayan, aktifis hingga tokoh politisi. Selain wisata Budaya, Buton memiliki beberapa daerah konservasi seperti Hutan Lambusango yang hampir separuh dari wilayah (45 %) terdiri dari hutan alam yang memiliki luas 65 ribu hektar dan dianggap sebagai benteng terakhir kehidupan Anoa (Babalus sp). Satwa endemik Sulawesi, yang saat ini diperkirakan hanya 100 ekor. Tingginya kekayaan hayati yang dimiliki Hutan Lambusango membuat sejumlah peniliti asing tertarik datang dan melakukan berbagai riset dan program konservasi atau hanya sekedar trakking.

Tak hanya itu, Hutan Trita Rimba yang lokasinya tak jauh dari Kota Bau-Bau dan berhadapan langsung dengan pantai Kamali, kerap dijadikan tempat trakking dan mendaki.*** (Marwan Azis).
Share on Google Plus

About Editor

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar